Taqiyah: Amalan Kaum Syi'ah
Taqiyah adalah satu rukun dari rukun-rukun agama mereka, seperti halnya solat. Ibnu Babawaih mengatakan:“Keyakinan kami tentang taqiyah itu adalah dia itu wajib. Barangsiapa meninggalkannya maka sama dengan meninggalkan solat.” [Al-I’tiqadat, hal.114].
Mereka menisbahkan kepada imam keenam Ja’far Ash-Shadiq, dia berkata: “Seandainya saya mengatakan bahawa yang meninggalkan taqiyah sama dengan yang meninggalkan solat tentu saya benar.” [Al-I’tiqadad, hal.114]
Mereka menipu kaum muslimin kerana mengikuti hawa nafsu iblis mereka, sekaligus mempropaganda kesesatan mereka. Mereka menganggap bahawa taqiyah lebih tinggi kedudukannya dibandingkan keimanan seseorang.
Dan demikianlah firqah Syi’ah menjadikan taqiyah, sebagai tiang agama dan menjadikannya sebagai salah satu simbol agama. Keyakinan akan kewajiban bertaqiyah menyebabkan mereka boleh berbohong. Sehingga perbuatan ini menjadi “trade mark” atau simbol Syi’ah. Umpamanya ada yang mengatakan, “Dia itu lebih pembohong dari orang rafidhah” [Tahqiq Mawaqif al-Sahabah fi al-Fitnah].
Kata mereka dalil bolehnya taqiyah ialah Firman Allah 'Azza wa Jalla, maksudnya:
“Janganlah orang-orang Mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (kekasih, penolong, pemimpin) dengan meninggalkan orang-orang Mukmin. Barangsiapa berbuat demikian nescaya, lepaslah ia dari pertolongon Allah kecuali kerana (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.” [Ali Imran: 28].
Firman Allah 'Azza wa Jalla, ertinya:
“Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa).” [An-Nahl: 106].
Sebagaimana mereka beristidlal dengan firman Allah 'Azza wa Jalla, melalui lisan Ibrahim a.s., ertinya:
“Lalu ia memandang sekali pandang ke bintang-bintang, kemudian ia berkata, ‘Sesungguhnya aku sakit’,”[Ash-Shaffat: 88-89].
Ini tidak sama dengan kedustaan dan kebohongan model Syi’ah, tetapi ayat ini membolehkan “tawriyah” (penyamaran) dalam zhahir ucapan jika diharuskan dalam kondisi darurat.
Ucapan Ibrahim a.s. “Sesungguhnya aku sakit” , maksudnya, “Dari amal kamu dan ibadah kamu kepada berhala-berhala itu”. Ini bukan dusta tetapi di dalamnya mengandung sindiran (ta’ridh) untuk maksud syar’i, iaitu menghancurkan tuhan-tuhan mereka setelah ditinggalkan oleh para penyembahnya. Bahkan taqiyah Syi’ah tidak hanya halal bagi manusia biasa, tetapi halal juga bagi para Nabi dan Rasul. Ini adalah sangat buruk dan keji serta kemungkaran yang nyata. Kerana Allah Ta’ala mengutus para Nabi dan Rasul untuk tugas menyampaikan risalah Tuhan mereka, mengajar manusia dan menyucikan mereka. Jika tidak tentu tidak akan tersebar dakwah mereka, tidak akan muncul pertentangan di antara mereka dan orang-orang yang mereka diutuskan kepadanya, tentu tidak akan merasakan ujian-ujian, siksaan-siksaan dan mara bahaya.
Al-Qur’an adalah sebaik-baik saksi dalam hal ini dan yang menafikan ini adalah firman Allah 'Azza wa Jalla, artinya:
“(Iaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tidak merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah.” [AI-Ahzab: 39].
Di antara riwayat dusta Syi’ah adalah taqiyah yang dikaitkankan kepada Rasulullah s.a.w. Mereka menyebut dari Abu Abdillah a.s.
Dia berkata: “Tatkala Abdullah bin Ubay bin Salul (pemimpin orang-orang munafik) mati, Rasulullah s.a.w. menghadiri jenazahnya.
Maka beliau menjawab, “Celaka kamu, tahukah kamu apa yang aku ucapkan? Sesungguhnya aku mengatakan, “Ya Allah tutuplah mulutnya dengan api, penuhilah kuburannya dengan api, dan masukkanlah dia ke dalam api neraka.”
Apakah seperti ini sifat dan karakter Rasul yang diutus sebagai ‘rahmatan lil’alamin’, yang datang sebagai pengajar dan pendidik bagi ummat manusia? Sungguh ini adalah kebohongan dan kecurangan dari orang-orang zindik untuk menjatuhkan maruah Rasulullah s.a.w.
Allah 'Azza wa Jalla telah memuji nabi-Nya dengan berfirman yang artinya:
Sepatutnya, Ibnu Salul lah yang memerlukan sikap dusta dan taqiyah ini kerana lemahnya dia di hadapan kekuatan Islam.
“Takutlah kamu kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” [At-Taubah:119]
“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.”[Al-Ahzab:70]
Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan mereka yang telah menyifati Rasulullah s.a.w. yang diutus sebagai penyebar rahmat dengan sifat-sifat seperti tadi.
Sesungguhnya taqiyah yang dilakukan oleh Rafidhah adalah kemunafikan yang nyata, mereka menginginkan sesuatu tapi mengucapkan dengan sesuatu yang lain. Memerintahkan sesuatu secara terang-terangan dan melarangnya bila bersendirian. Allah Ta’ala telah menjelaskan sifat-sifat orang munafik dan sifat-sifat tersebut adalah sifat-sifat orang Syiah yang sudah terbiasa dan terdidik dengan pendidikan yang hina ini, dan dari sana mereka mewariskannya kepada anak-anak mereka.
Allah 'Azza wa Jalla berfirman:
“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, kami mengakui bahawa sesungguhnya kamu adalah benar-benar Rasul Allah. Dan Allah mengetahui bahawa sesungguhnya kamu adalah benar-benar Rasul-Nya. Dan Allah mengetahui bahawa sesungguhnya orang munafik itu benar-benar pendusta.” [Al-Munafiqun:1].
Allah berfirman, ertinya: “Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan kami beriman, dan apabila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” [Al-Baqarah:14]
Apabila orang yang mengerumuni mereka dan yang menganut agama mereka hanyalah orang-orang bodoh –semoga Allah memberi hidayah kepada mereka- yang tidak mampu membuat penilaian di dalam masalah akidah. Jika mereka mendengar dari satu imam yang berkata begini dan begitu, mereka langsung membenarkan sebelum orang yang menceritakan hadits itu menyempurnakan haditsnya. Mereka telah menjadikan para pengikut sebagai tawanan bagi ucapan para imam yang dipalsukan itu, kerana mereka telah menanamkan ketaatan buta tuli kepada imam, mereka telah menakut-nakutkan pengikutnya dan telah membius mereka dengan hadits-hadits yang tidak ada sangkut pautnya dengan Islam.
Berikut ini adalah penyaksiian ulama Syi’ah yang berakal tentang taqiyah yang dia sebutkan dalam kitabnya, “Sesungguhnya saya meyakini dengan seyakin-yakinnya bahawa tidak ada satu ummat di dunia yang menghinakan dirinya dengan menerima konsep taqiyah dan mengamalkannya. Inilah saya, saya memohon kepada Allah secara ikhlas dan saya mengetahui hari yang orang Syi’ah tidak pernah berfikir, bahkan tidak pernah berfikir tentang taqiyah apalagi tentang pengamalannya.”
Dan dia menambah, “Sesungguhnya yang menjadi kewajiban bagi Syi’ah adalah menjadikan perhatiannya terhadap kaedah akhlak yang telah diwajibkan oleh Islam atau seluruh kaum muslimin, yaitu: seorang muslim tidak boleh menipu, tidak menjilat,tidak melakukan kecuali yang haq dan tidak berkata melainkan yang haq sekalipun atas dirinya. Dan sesungguhnya perbuatan baik itu adalah baik di segala tempat dan amal yang buruk adalah buruk di segala tempat.”
Sebagaimana dikatakan oleh seorang Iran, Ahmad Al-Kisrawi, “Sesungguhnya taqiyah adalah satu macam dari dusta dan nifaq, apakah masih perlu menyelidiki tentang keburukan dusta dan nifaq?” [Syi’ah wa At-Tasyayyu’, hal.87].
Sesungguhnya taqiyah itu hanya dibolehkan untuk orang-orang lemah yang ditindas yang khuatir tidak boleh kekal di atas kebenaran dan bagi orang-orang yang tidak menempati qudwah (teladan) bagi manusia, orang seperti merekalah yang boleh mengambil rukhsyah (taqiyah) ini. Adapun orang-orang yang memiliki semangat dan tekad dari para Imam yang menjadi petuntuk jalan maka mereka wajib mengambil azimah (hukum yang kuat) menanggung derita , tetap teguh di jalan Allah walau apapun yang mereka hadapi. Dan adalah para sahabat Rasulullah s.a.w. orang yang mulia sebagaimana yang dipersaksikan Al-Qur’an. Allah berfirman :
“Kekuatan, kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang yang mukmin, tetapi orang-orang yang munafik itu tidak mengetahui.” [Al-Munafiqun: 8].
Maka tidak boleh orang-orang yang mulia (kuat) itu hanya berasal dari para sahabat yang khusus, kerana Ali dan Ibnu Abbas , bukan orang yang munafik juga bukan orang yang hina sehingga mengambil sikap taqiyah.
Ibnu Taimiyah berkata, “Inilah sikap Rafidhah”. Syi’ar mereka adalah kehinaan, baju mereka adalah nifak dan taqiyah, modal mereka adalah dusta dan sumpah palsu. Mereka berdusta atas nama Ja’far As-Siddiq bahwa dia berkata : Taqiyah adalah agamaku dan agama bapa-bapaku. Dan Allah telah membersihkan ahlul bait dari hal itu dan tidak menjadikan mereka memerlukan kepadanya , kerana mereka adalah manusia paling jujur dan paling agung imannya. Agama mereka adalah takwa dan bukan taqiyah [Al-Muntaqa: 86].
Inilah hakikat taqiyah dalam agama Syi’ah dia tidak lain hanyalah dusta, nifaq, dan penipuan; tidak ada amanah bagi mereka, tidak ada keikhlasan dan kejujuran dalam agama mereka . Mereka adalah para pendusta yang bangga dengan dustanya dan terang-terangan dengan maksiatnya di hadapan mata manusia.
Allah berfirman:“Di antara orang-orang Mukmin ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka (ada pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah-ubah janjinya, supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu kerana kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al-Ahzab:23-24].
Serangan Syi'ah Terhadap Sahabat
Apa kata mereka tentang sahabat?
Mereka juga mengaguhnya para sahabat, kerana mereka telah membai’at Abu Bakar, maka semuanya menjadi kafir kecuali tiga atau empat orang ,(Kitab syiah Itsna ‘asyariyah) diantaranya dari Hinan bin Sadir (tokoh syi’ah) dari bapanya dari Abu Ja’far, dia berkata : “Semua manusia menjadi kafir setelah meninggalnya Nabi saw kecuali tiga orang iaitu : Miqdad bin Aswad, Abu Zar al Ghifari dan Salman al- Farisi.” [Al-Kafi 12/321,322]. Lebih dari itu mereka juga mengkafirkan sebahagian dari ahli Bait Rasulullah s.a.w. , seperti Al-Abbas dan Abdulullah bin Abbas, mereka menganggapnya kerdil dan bodoh. [Ushul Kafi1/247]. Maka lihatlah bagaimana mereka menganggap generasi termulia menjadi seperti iblis atau Abu Jahal. Padahal dengan celaan mereka terhadap sahabat saja sudah bererti mencela Nabi dan Islam. Cukuplah bagi kita untuk menepis kebatilan itu dengan Hadits: “Janganlah kamu mencela sahabatku, karena seandainya kamu berinfaq emas sebesar gunung uhud tidak akan menyamai kebaikan mereka (walaupun) satu mud atau setengahnya” [HR. Bukhari dari Abi Said Al- Khudri]
Menurut Syi’ah Itsna’asyariyah, bahawa semua pemerintahan selain pemerintahan Itsna’asyariyah adalah bathil, dan penguasanya adalah thagut. Barangsiapa yang berbai’at kepadanya tak ubahnya seperti orang yang membai’at thagut. Mereka berpendapat bahwa semua khalifah selain Ali dan Hasan adalah thagut, sekalipun mereka menyeru kepada kebenaran. Al-Majlisi mengatakan: “Bahawa khulafa’ Ar-Rasyidin adalah perampas yang murtad dari Islam, semoga Allah melaknat mereka dan orang yang mengikuti mereka, kerana mereka menzalimi Ahlul bait dari awal hingga akhir.” [Ushul kafi: 1/427 dan Rijal al-kusyi hal:35]. Di masa Ja’far bin Shadiq, Syi’ah rafidhah juga mengatakan : Penduduk Syam lebih jelek dari pada penduduk Romawi (Nasrani), dan penduduk Madinah tujuh puluh kali lebih jelek dari penduduk Makkah, sedangkan penduduk Makkah telah kafir dengan nyata. [Ushul kafi: 2/49]
(Disaring oleh http://www.darulkautsar.net dari http://www.syiah.blogspot.com)
Aqidah Al-Bada’ Dan Sejarah Kemunculannya Menurut Syiah
PERBEZAAN AQIDAH AHLI SUNNAH DAN SYIAH
BIL
|
AHLI SUNNAH | SYIAH |
|---|---|---|
1
|
Al-Quran adalah terpelihara dan bebas daripada kekurangan mahupun penyelewengan. | Al-Quran yang ada sekarang ada kekurangannya dan terseleweng. |
2
|
Beriktiqad bahawa penafsiran Al-Quran hendaklah berpandukan pada apa yang datang daripada Nabi SAW. | Berpendapat penafsiran Al-Quran hendaklah berpandukan daripada apa yang telah diriwayatkan ahli al-bait dengan riwayat-riwayat yang mencela para sahabat dan mendakwa Imam Ali sebagai tuhan serta imam selepasnya. |
3
|
Al-Quran diturunkan sepenuhnya ke atas Rasulullah SAW, tiada kekurangan padanya dan tiada kitab lain selepasnya. | Beriktiqad bahawa di sana ada mashaf yang diturunkan selepas kewafatan Nabi SAW dan dinamakan mashaf Fatimah. |
4
|
Sunnah Nabi adalah apa saja yang datang daripada Nabi sama ada percakapan, perbuatan mahupun taqrir. | Mengatakan bahawa percakapan Imam 12 seperti firman Allah Taala dan Sabda Rasulullah SAW . Meriwayatkan daripada mereka sama seperti meriwayatkan hadith daripada Nabi kerana mereka juga maksum. |
5
|
Syariat Islam adalah sempurna. | Bahawa Rasulullah SAW menyampaikan sebahagian daripada Syariat sahaja sedangkan sebahagiannya disembunyikan dan ditinggalkan pada Imam Ali. |
6
|
Menerima periwayatan sahabat r.a kerana mereka adil dan thiqah (dipercayai). | Menolak periwayatan sahabat, mereka beriktiqad bahawa para sahabat semuanya menipu seperti Abu Hurairah, Samurah bin Jundub. |
7
|
Menerima semua hadith-hadith yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim serta kitab-kitab hadith sahih yang lain. | Tidak berpegang dengan kitab-kitab hadith Ahli Sunnah melainkan yang ada persamaan dengan aqidah pegangan mereka. |
8
|
Berpegang dengan Al-Quran, Sunnah dan Ijmak sebagai prinsip asas kepada Syariat Islam. | Tidak percaya kepada Ijmak sama ada dari sahabat mahupun selain mereka tanpa kewujudan orang yang maksum bersama mereka. |
9
|
Tiada yang maksum melainkan Rasulullah SAW, para anbia dan rasul-rasul terdahulu. | Para Imam-imam adalah maksum dan kemaksuman mereka adalah perkara dasar dalam prinsip Imamah. Imam tidak akan terkena dosa sama ada sengaja atau tidak. |
10
|
Mukjizat yang dianugerahkan Allah kepada para Nabi dan Rasul adalah satu bukti kebenaran. | Mukjizat hanya untuk para imam, mereka mampu menghidupkan yang mati, menyembuhkan penyakit bisu, kusta serta mereka memiliki semua mukjizat yang dimiliki oleh para Nabi. |
11
|
Tiada yang mengetahui perkara-perkara ghaib melainkan Allah SWT. | Para imam mengetahui perkara-perkara ghaib, tidak terhijab daripada mereka ilmu-ilmu apa yang di langit, di bumi, di syurga dan neraka. |
PERPADUAN ANTARA SUNNI DAN SYIAH : MUNGKINKAH?
Bagi orang kebanyakan daripada kedua-dua kelompok ini, mereka beranggapan tiada perselisihan di antara Sunni dan Syiah di dalam perkara dasar (usul) iman ataupun rukun Islam ataupun perkara-perkara yang perlu diketahui dalam agama. Perselisihan juga dalam permasalahan fiqh, pendapat-pendapat dan falsafah-falsafah yang mana tiada hubungan dengannya dengan prinsip-prinsip aqidah, atau tiada perselisihan langsung sebenarnya. Adapun konflik yang berlaku adalah hasil daripada sangkaan semata-mata disebabkan kedua-dua pihak telah hidup dalam keadaan berasingan dalam tempoh yang agak panjang. Kumpulan ini berpendapat bahawa perpaduan boleh dicapai dan perselisihan atau khilaf dalam masalah furu' tidaklah membawa kepada perbalahan, putus hubungan, salah sangka mahupun tuduh menuduh kerana memutuskan hubungan sesama Islam adalah satu penyakit yang memburukkan umat Islam. Umat Islam tidak mendapat apapun melainkan kegagalan dan kelemahan.
Walau bagaimanapun di kalangan sekumpulan yang lain selain dari kumpulan kebanyakan yang dinyatakan di atas, terdapat perselisihan di antara kedua-dua pihak, jurang pemisah amatlah besar pada sudut aqidah, hukum-hukum dan sumber yang diperolehi. Ini menjadikan jalan-jalan untuk mempererat keduanya tertutup, tiada lagi jalan penyelesaian. Setiap pihak berpegang dengan pegangan mereka sendiri, tiada faedah dalam menganjurkan seminar-seminar dan rundingan-rundingan. Dengan meninggalkan segala perdebatan atau dialog adalah merupakan jalan terbaik untuk memadamkan api fitnah. Jadi setiap pihak dengan pegangan mereka sendiri dan di sana ada kehidupan serta kerjasama dalam urusan harian seperti mana negara-negara lain berlainan agama dapat menjalankan kerjasama. Ini adalah pandangan sebahagian besar kedua-dua belah pihak seperti Syeikh Muhammad Zahid Al-Kauthari, Syeikh Muhammad Bahjah Al-Baitar (ulama Sham), Syeikh Muhammad Al-Kholisi di Iraq, Syeikh Rashid Ridha dan yang terdahulu daripada mereka iaitu Syiekh Al-Islam, Ibnu Taimiyyah dan lain-lain.
Berdasarkan apa yang terdahulu, Sesungguhnya kita pada hari ini perlu meneliti semula pandangan-pandangan ini kerana seruan ke arah mempererat lagi hubungan terus diperbaharui pada masa kini yang mana ianya telah dilakukan oleh orang persendirian mahupun badan atau pertubuhan-pertubuhan tertentu. Berlaku suasana kecelaruan di kalangan sesetengah masyarakat Islam hingga tidak dapat membezakan antara "khilaf" atau perbezaan yang dibenarkan dan pegangan menyeleweng daripada aqidah yang benar. Pada hakikatnya "pendekatan" antara Sunni dan Syiah merupakan satu usaha "kompromi" antara perkara yang hak dan batil.
PENYELEWENGAN UMUM SYIAH
i. Syiah mendakwa bahawa orang yang menziarahi kubur Saidina Husain akan memasuki Syurga, sebagaimana yang diriwayatkan daripada Rasulullah SAW yang bermaksud :
"Sesiapa yang menziarahi Husain selepas wafatnya, nescaya ia akan memasuki Syurga".
ii. Perkara ini terkandung di dalam kitab al-Irsyad karangan Muhammad bin Muhammad bin Nu'man al-'Askibri al-Baghdadi, halaman 252.
2) Menyeksa Tubuh Badan Sempena 10 Muharram
i. Golongan Syiah mengadakan upacara memukul dada dan menyeksa tubuh badan sempena 10 Muharram bagi menangisi kematian Saidina Husain. Perkara ini dinyatakan di dalam Kitab al-Syiah Wa al-Tashih al-Sira', Baina al-Syiah Wa at-Tasyayyu' oleh Doktor Musa al-Musawi, halaman 98.
3) Menghina Isteri-isteri Nabi SAW.
i. Golongan Syiah juga jelas menghina isteri-isteri nabi. Hal ini dinyatakan dalam kitab Tuhfah al-'Awam Maqbul oleh Al-Syed Manzur Husain, halaman 330.
PENYELEWENGAN SYIAH DARI SUDUT SYARIAT
i. Golongan Syiah tidak menerima ijmak ulama dalam perundangan Islam malah mereka berpegang kepada pendapat imam-imam mereka kerana mereka mempercayai ijmak terkandung kesalahan sedangkan pendapat imam adalah maksum. Kenyataan ini dijelaskan dalam buku Mukhtasar al-Tuhfah al-Ithna Asyariyyah oleh Shah Abdul Aziz al-Imam Waliyullah Ahmad Abdul Rahim ad-Dahlawi, halaman 51.
2) Menolak Qias.
i. Golongan ini juga menolak qias. Perkara ini dinyatakan di dalam kitab Aslu al-Syiah Wa Usuluha oleh Muhammad bin al-Husain Aali Khasif al-Ghita', halaman 149.
3) Mengamalkan Nikah Mut'ah.
i. Golongan Syiah masih meneruskan amalan nikah Mut'ah yang diamalkan sejak zaman Jahiliyyah sehingga sekarang. Mereka berpendapat nikah Mut'ah adalah diharuskan dalam syariat Islam. Ciri-ciri nikah Mut'ah yang diamalkan oleh golongan Syiah adalah akad, tempoh dan mahar. Berikut adalah huraian ciri-ciri nikah Mut'ah golongan Syiah :
- Dalam nikah Mut'ah ditetapkan tempoh tertentu yang dipersetujui oleh kedua-dua pihak sama ada sebulan, setahun, atau sehari. Nikah Mut'ah juga boleh dilakukan dalam tempoh satu jam, dua jam, sehari,dua hari atau semalaman.
- Nikah Mut'ah boleh dilakukan dengan perempuan Yahudi, Nasrani, Majusi, anak dara tanpa izin bapanya dan juga perempuan pelacur. Dalam nikah Mut'ah juga tidak ditentukan bilangan wanita yang diMut'ahkan, boleh dilakukan sehingga seribu orang wanita.
- Sewaktu akad hendaklah disebutkan mahar dan tempoh yang dipersetujui kedua-dua pihak. Sekurang-kurang mahar ialah semangkuk gula atau segenggam makanan dan sebagainya.
4) Menolak 'Aul dan mendahulukan Qurabah dari 'Asobah dalam Masalah Pusaka.
i. Dalam pembahagian harta pusaka, feqah Syiah tidak menerima 'aul yang telah diasaskan oleh Khalifah Umar al-khattab. Perkara ini dinyatakan dalam buku Minhaj kebenaran dan pendedahannya ( Fiqh Lima Mazhab di antara Nas dan Ijtihad) oleh al-Hassan bin Yusuf al-Mutahhar al-hulliyy, terjemahan Prof. Madya Dr. Lutpi Ibrahim, halaman 100-101.
5) Mengharuskan Jamak Sembahyang Dalam Semua Keadaan.
i. Golongan Syiah mengharuskan jamak sembahyang fardhu iaitu Zohor dan Asar dalam waktu Asar, Maghrib dan Isyak dalam waktu Isyak dalam semua keadaan tanpa sebarang sebab permusafiran. Perkara ini disebutkan di dalam buku Minhaj Kebenaran dan pendedahannya ( Fiqh Lima Mazhab di antara Nas dan Ijtihad) oleh al-Hasan bin Yusuf al-Mutahhar al-Hulliy, terjemahan Prof. Madya Dr. Lutpi Ibrahim, halaman 36.
6) Menetapkan Prinsip Khumus sebagai Kadar Zakat.
i. Golongan Syiah menetapkan 1/5 sebagai kadar zakat. Mereka juga menetapkan kadar itu pada harta rampasan perang dan lain-lain. Perkara-perkara ini terkandung di dalam kitab Tahzib al-Ahkam karangan Abu Ja'far Muhammad bin al-Hasan al-Tusi, halaman 122 dan buku Minhaj kebenaran dan pendedahannya ( Fiqh Lima Mazhab di antara Nas dan Ijtihad) oleh al-Hasan bin Yusuf al-Mutahhar al-Hulliy, terjemahan Prof. Madya Dr.Lutpi Ibrahim, halaman 48.
7) Sembahyang Dhuha adalah Bid'ah.
i. Golongan Syiah mendakwa sembahyang Dhuha adalah Bid'ah. Perkara ini dinyatakan di dalam buku Minhaj kebenaran dan pendedahannya ( Fiqh Lima Mazhab di Antara Nas dan Ijtihad) oleh al-Hasan bin Yusuf al-Mutahhar al-Hulliyy, terjemahan Prof. Madya Dr. Lutpi Ibrahim, halaman 31.
8) Islam bukanlah Syarat Wajibnya Haji.
i. Syiah mendakwa Islam bukanlah syarat wajibnya haji. Perkara ini dinyatakan dalam buku Minhaj Kebenaran dan pendedahannya (Fiqh Lima Mazhab di Antara Nas dan Ijtihad) oleh al-Hasan bin Yusuf al-Mutahhar al-Hulliy, terjemahan oleh Prof. Madya Dr. Lutpi Ibrahim, halaman 55.
9) Qunut adalah Sunat, Ianya dilakukan Sebelum Rukuk.
i. Golongan Syiah mendakwa Qunut adalah sunat, ianya dilakukan sebelum rukuk. Perkara ini disebutkan didalam buku Minhaj kebenaran dan pendedahannya (Fiqh Lima Mazhab di Antara Nas dan Ijtihad) oleh al-Hasan bin Yusuf al-Mutahhar al-Hulliyy, terjemahan Prof. Madya Dr. Lutpi Ibrahim, halaman 30-31.
10) Wajib Menyapu Kedua-dua Kaki dan Tidak Memadai Basuh Kedua-duanya.
i. Syiah juga mendakwa wajib menyapu kedua-dua kaki dan tidak memadai basuh pada kedua-duanya. Hal ini dijelaskan di dalam buku Minhaj Kebenaran dan Pendedahannya (Fiqh Lima Mazhab di antara Nas dan Ijtihad) oleh al-Hasan bin Yusuf al-Mutahhar al-Hulliyy, terjemahan Prof. Madya Dr. Lutpi Ibrahim, halaman 13-14.
ASPEK PENYELEWANGAN SYIAH
PENYELEWENGAN DARIPADA SUDUT AQIDAH
1) Khalifah diwasiatkan secara Nas
i. Syiah mempercayai imam-imam telah ditentukan Allah melalui lisan Rasul-NYA secara nas. Ini dijelaskan dalam kitab Aqaid al-Imamiah oleh Syeikh Muhammad Redha al-Muzaffar, halaman 78.
ii. Syiah juga mempercayai wasi ( orang yang dilantik untuk menunaikan wasiat) Rasulullah SAW adalah Saidina Ali. Perkara ini disebutkan dalam kitab Aslu Al-Syiah Wa Usuluha oleh Muhammad bin Husain Ali Kasyif al-Ghita', halaman 136.
2) Imamah dan khalifah sebahagian daripada Rukun Islam dan ianya berlaku melalui nas. Perkara ini dinyatakan di dalam buku Minhaj kebenaran dan Pendedahannya ( Fiqh Lima Mazhab di antara Nas dan Ijtihad) oleh al-Hasan bin Yusuf al-Mutahhar al-Hulliyy, terjemahan Prof. Madya Dr. Lutpi Ibrahim, halaman 145-146.
3) Imam adalah Maksum
i. Syiah meyakini bahawa imam-imam adalah maksum (terpelihara) daripada dosa kecil dan dosa besar dari peringkat kanak-kanak hinggalah meninggal dunia.
ii. Menurut mereka imam sama seperti Nabi, tidak melakukan kesalahan, tidak lupa serta dianggap sebagai pemelihara syariat. Perkara ini dijelaskan dalam kitab al-Syiah Fi al-Mizan oleh Muhammad Jawad Mughniah, halaman 38 dan kitab Aqaid al-Imamiah oleh Syeikh Muhammad Redha al-Muzaffar, halaman 72.
4) Ilmu Allah berubah-ubah mengikut sesuatu peristiwa yang berlaku kepada manusia (al-Bada').
i. Dari sudut bahasa al-Bada' bermaksud lahir sesusah tersembunyi. Menurut akidah Syiah, al-Bada' ialah Allah mengetahui sesuatu perkara setelah berlaku peristiwa berkenaan yang sebelum itu dianggap tersembunyi daripada-Nya.
ii. Syiah juga menganggap ilmu Tuhan itu akan berubah dan bersesuaian dengan fenomena baru. Hal ini dijelaskan dalam kitab al-Usul Min al-Kafi oleh Al-Khulaini, Juzu' 1, halaman 146.
5) Kemunculan semula Imam Mahdi dan Kumpulan Orang yang telah Mati untuk memberi keadilan ( Ar-Raj'ah).
i. Menurut aqidah Syiah, golongan Syiah dikehendaki mempercayai bahawa Allah akan menghidupkan semula orang-orang yang telah mati ke dunia bersama-sama kebangkitan Imam Mahdi untuk menghukum orang-orang yang melakukan kezaliman. Fakta ini dijelaskan dalam kitab Aqaid al-Imamiah oleh Syeikh Muhammad Redha al-Muzaffar, halaman 83.
6) Berpura-pura ( At-Taqiyyah)
i. At-Taqiyyah bermaksud menyembunyikan sesuatu yang boleh membahayakan diri atau harta benda dengan melahirkan yang bukan hakikat sebenar dari kandungan hatinya.
ii. At-Taqiyyah ini diamalkan dalam setiap perkara kecuali di dalam masalah arak dan menyapu dua khuf. Perkara ini dijelaskan dalam kitab al-Usul Min al-Kafi, juzu' 2 oleh Abu Ja'far Muhammad bin Ya'kub bin Ishak al-Khulaini ar-Razi, halaman 217.
7) Muhammad bin Hassan al-Askari ialah Imam Mahdi al-Muntazar (al-Mahdi).
i. Mereka percaya bahawa Muhammad bin Hassan al-Askari ialah imam yang ditunggu-tunggu yang hilang dan yang akan kembali untuk memerintah dan menghukum orang-orang yang telah melakukan kezaliman.
ii. Beliau telah menghilangkan diri selama 65 tahun mulai tahun 206H - 329H. Hal ini dijelaskan dalam kitab as-Syiah Wa al-Tashih al-Sira' Baina al-Syiah Wa al-Tasyayyu' oleh Doktor Musa al-Musawi, halaman 61.
8) Saidina Ali disamatarafkan dengan Allah SWT.
i. Mereka mempercayai Ali adalah sama taraf dengan Allah di mana beliau adalah sebagai pembahagi ahli Syurga dan ahli Neraka. Perkara ini disebut di dalam kitab al-Usul Min al-Kafi oleh al-khulaini, Jilid 1, halaman 197.
9) Mengkafirkan Para Sahabat.
i. Mereka mempercayai bahawa selepas kewafatan Rasulullah SAW semua sahabat murtad kecuali ahlul bait dan empat orang sahabat iaitu Abu Dzar, Miqdad, Salman al-Farisi dan Ammar bin Yasir. Hal ini dinyatakan dalam kitab al-Anwar al-Nu'maniah oleh al-Syed Nikmatullah al-Musawi, halaman 81.
10) Menuduh Abu bakar, Umar, Uthman dan Muawiyah Sebagai Empat Berhala Quraisy Serta Pengikut-Pengikut Mereka adalah Musuh Allah.
i. Golongan Syiah menuduh Abu bakar, Umar, Uthman dan Muawiyah sebagai empat berhala Quraisy dan pengikut mereka dikatakan musuh Allah. Perkara ini dijelaskan dalam kitab al-Tafsir oleh Muhammad bin Mas'ud bin 'Iyasy al-Salami al-Samarqandi, juzu' 1, halaman 116.
11) Hanya Ali Menghimpunkan Al-Quran Dengan Sempurna.
i. Mereka menganggap bahawa tidak ada sahabat yang menghimpunkan dan menghafal al-Quran dengan sempurna kecuali Ali sahaja. Perkara ini dinyatakan dalam kitab al-Usul Min al-Kafi oleh al-Khulaini,Jilid 1, halaman 228. Al-Quran yang ada pada umat Islam sekarang sama ada di dalam mashaf atau yang dilafaz dianggap telah diseleweng. Al-Quran yang sebenarnya ada pada Saidina Ali bin Abi Thalib, kemudian beliau telah mewariskan kepada Imam yang selepasnya dan sekarang ini ada pada Imam kedua belas mereka iaitu Imam Mahdi al-Muntazar. Selepas Imam ini turun barulah al-Quran yang sebenar akan dikemukakan pada orang ramai, mengikut kepercayaan Syiah.
ii. Selain daripada itu, puak Syiah mempunyai pandangan yang khas dalam mentafsirkan al-Quran dan mentakwilkannya. Antara contoh tafsiran Syiah adalah seperti berikut :
- Mereka mentafsirkan firman Allah dalam surah al-Nahl ayat 51 iaitu "dengan itu janganlah kamu menjadikan dua orang Imam sebenarnya ambillah satu imam sahaja".
- Firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah ayat 238 dengan maksud "(al-Solah) ialah Rasulullah, Amirul Mukminin, Hasan dan Husain, manakala (al-Wusto) ialah Amirul Mukminin, (waqumu lillahi qonitin) ialah taat terhadap Imam-Imam.
- Firman Allah SWT dalam surah al-Naba' ayat 1-2. Mereka mentafsirkan (al-Naba') ialah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib.
12)Menambah Syahadah
i. Golongan Syiah menambah nama Saidina Ali dalam Syahadah selepas nama Nabi Muhammad SAW. Perkara ini dinyatakan dalam kitab al-Usul Min al-Kafi oleh al-Khulaini,jilid 1, halaman 441.
13) Menolak Hadith Yang Diriwayatkan Oleh Ahlus Sunnah Wal Jamaah sekalipun Hadith Mutawatir. Mereka berpegang kepada empat kitab-kitab hadith sahaja, dan dengannyalah mereka beramal untuk sepanjang zaman. Kitab tersebut adalah Al-Kafi Fi Usul Wa Al-Furu', Man La Yakhdarah Al-Faqih, Tahzib Ahkam, dan Al-Istibsor Fima Ikhtilafiyyah Min Akhbar.
i. Al-Kafi Fi Usul Wa al-Furu', karangan Muhammad bin Yaakub Al-Khulaini, digelar oleh puak Syiah sebagai Thiqah AL-Islam. Kitab ini adalah kitab yang terulung agama Syiah. Periwayatannya disandarkan terus kepada salah seorang Imam 12 bukannya kepada Rasulullah SAW.
ii. Mereka berpendapat bahawa tiada bezanya di antara imam-imam itu dengan Rasulullah SAW. Imam yang paling banyak disandarkan kepadanya ialah Imam Jaafar As-Sodiq. Kitab ini mengandungi riwayat-riwayat yang menghina dan mengaibkan Al-Quran dengan mengatakan ianya ada kekurangan dan terseleweng.
iii. Mereka hanya berpegang dengan hadith yang diriwayatkan oleh Ahlul Bait.
iv. Mereka juga pantang menerima apa yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Samurah b. jundub, Marwan b. al-Hakam, Imran b. Hathan al-Khariji dan Amru b. al-As. Pegangan ini disebutkan di dalam buku Aslu al-Syiah Wa Usuluha oleh Muhammad al-Husain Aali Kasyif al-Ghita', halaman 149.
About Me
- slash
- Makna Kebahgiaan. Kebahagiaan itu diibaratkan seperti sebatang pohon yang rendang, tempat tumbuhnya adalah jiwa dan perasaan kemanusiaan, ketakwaan kepada Allah adalah merupakan air, udara dan cahaya yang membantu pertumbuhannya. Yusuf al-Qardawi